Morning Rhythm: Alan Tola dan Jejak Oker Leang-Leang
Perupa otodidak Alan Tola menggelar Morning Rhythm, 23–25 Oktober 2026: abstraksi tentang pagi, perubahan, dan jejak oker di dinding gua.
Rangkaian Spirit Leang-leang 2026 berlanjut dengan pameran tunggal Alan Tola, Morning Rhythm, di Warkop Indonesia, Panakkukang, Makassar, 23–25 Oktober 2026. Alan, perupa otodidak, adalah perupa kedelapan dari sembilan perupa dalam rangkaian ini. Pameran dikuratori Achmad Fauzi, terbuka untuk umum, dan gratis.
Morning Rhythm tidak sekadar menampilkan citra pagi. Ia menangkap momen penyingkapan yang hening, ketika ritme hidup yang telah menjadi kebiasaan selama puluhan tahun perlahan berubah dan melahirkan simfoni baru. Lewat simbol-simbol non-figuratif dan warna lembut yang harmonis, Alan mengajak pengunjung masuk ke ruang kontemplatif: berdialog dengan diri sendiri tentang esensi hidup dan cara menghadapi perubahan dengan sadar.
Dari dinding batu ke kanvas
Diskusi pembukaan pada Jumat, 23 Oktober, menghadirkan budayawan dan pengamat seni rupa Judy Rahardjo, dipandu Irhyl R. Makkatutu. Judy membaca karya Alan sebagai kelanjutan tradisi tua abstraksi di Sulawesi Selatan.
“Di dinding Leang-Leang, pigmen oker merah ditiupkan. Tangan manusia direduksi menjadi ruang negatif. Dalam Morning Rhythm, Alan Tola meneruskan tradisi itu. Warna kuning oker, pendar putih, serta cokelat tanah memanggil memori materialitas sedimen dan tebing karst. Dari dinding batu Leang-Leang hingga kanvas hari ini, abstraksi adalah cara manusia bertahan.”
Di atas kanvas Alan, kata Judy, kehangatan pagi yang organik menyusup di antara bidang-bidang geometris yang kaku — taktik warga untuk bertahan di tengah ritme kota modern yang serba terjadwal.
Kisah di balik setiap lukisan
Bagi kurator Achmad Fauzi, edisi ini memperlihatkan spektrum lain Spirit Leang-leang: bila pameran sebelumnya membaca tradisi lewat ruang dan pengalaman sosial, Alan membacanya ke dalam, lewat pengalaman pribadi dan abstraksi.
“Setiap lukisan Alan Tola merupakan visualisasi momentum bermakna.”
Musisi Rembulan Biru, misalnya, lahir dari kebiasaan Alan menikmati denting kecapi para pemusik di kawasan Ajatappareng — Pinrang, Parepare, Sidrap, dan Barru — yang bermain di hajatan dan pesta panen, sering tanpa bayaran selain kopi dan sanggara'. Karya lain seperti Monstera Deliciosa, Hening, dan Morning View juga membawa kisahnya sendiri, sampai pada pengalaman spiritual Alan menyaksikan pagi di Tanah Suci, Makkah.
Warkop dipilih dengan sengaja. Koordinator program Wahyuddin Yunus menyebut Warkop Indonesia sebagai ruang alternatif yang konsisten merawat denyut seni rupa Makassar, tempat seniman, karya, dan warga bertemu.
Sumber
- Tribun Timur — Spirit Leang-Leang Berlanjut, Alan Tola Gelar Pameran Tunggal Morning Rhythm di Warkop Indonesia
- Berita Kota Makassar — Dari Warkop Indonesia, Seniman Spirit Leang-leang Alan Tola Gelar Pameran Tunggal Morning Rhythm
- MataKita — Alan Tola Gelar Pameran Tunggal “Morning Rhythm”, Hadirkan Jejak Seni Prasejarah Leang-Leang
- Maupa.id — Lukisan Alan Tola; Visualisasi Kisah dan Momentum Bermakna (Syamsuddin Simmau)
Detail pameran: Morning Rhythm.