Perupa, pematung, dan akademisi Universitas Negeri Makassar kelahiran Makassar, 6 September 1954. Dikenal sebagai abstraksionis Lontara: aksara Lontara selalu hadir dalam karya-karyanya.
Aksara Lontara akan hilang, jika tak diabadikan juga dalam karya lukisan.
Pada 1980, Thamrin menjuarai lomba seni lukis tingkat Kotamadya Ujungpandang. Ketertarikannya pada lukisan abstrak tumbuh ketika ia menjadi juara pertama lomba lukis antarperguruan tinggi se-Indonesia Timur di Manado pada 1984. Dua tahun kemudian ia menjuarai lomba poster lingkungan nasional di Jakarta, dan pada 2004 mewakili Indonesia dalam pameran seni rupa di Tokyo, Jepang. Selain lukisan, patung, ornamen, mural, simbol, dan emblem abstrak di Sulawesi menjadi karya monumentalnya.
Ia mengajar di IKIP sejak akhir 1980-an dan pernah menjabat Wakil Dekan III Fakultas Seni dan Desain UNM. Gelar magister antropologi ia raih di Pascasarjana IKIP pada 1999, dan gelar doktor sosiologi di UNM pada 2017 dengan disertasi tentang perubahan makna simbolik pada upacara empat daur hidup etnik Makassar: hamil, melahirkan, menikah, dan kematian. Empat daur itu pula yang kerap menjadi inspirasi karyanya.
Aksara Lontara mulai banyak hadir dalam karyanya setelah ia menempuh magister antropologi. Di tengah memudarnya penggunaan Lontara di era digital dan kecerdasan buatan, ia memandang Lontara sebagai jejak peradaban, pengetahuan, nilai, hukum adat, sejarah, dan pandangan hidup masyarakat Sulawesi Selatan.
Karya-karyanya antara lain Mitos (2006), Anatomi (2008), Ambang (2012) di pintu rektorat Gedung Phinisi UNM, Nyala Tersisa (2013), Jejak (2014), Belo-Belo (2022), Paruntu Kana (2022), Pappaseng (2023), Ruang (2024), dan Sulapa Appa (2024).
- Lahir
- Makassar, 6 September 1954
- Profesi
- Dosen dan peneliti, Universitas Negeri Makassar
- Pendidikan
- Magister Antropologi IKIP (1999), Doktor Sosiologi UNM (2017)
- Jabatan
- Pernah Wakil Dekan III Fakultas Seni dan Desain UNM