Perupa otodidak kelahiran Makassar, 11 September 1967, yang dikenal lewat seri Kampung Garam sejak 2014: kehidupan pesisir, garam, dan ingatan masa kecil. Ahmad Anzul berpulang pada 22 Maret 2026, sebelum pameran tunggalnya di Spirit Leang-leang 2026 dibuka.
Ahmad Anzul memulai dari kerajinan gelang di Pasar Seni Somba Opu pada 1990-an. Pada 1999, lingkungan Gedung Kesenian Societeit de Harmonie menariknya ke seni rupa, dan ia ikut berpameran di Makassar Art Forum 99. Sebagai seniman otodidak, ia mematangkan konsep lewat diskusi intens dengan sesama seniman.
Gagasan Kampung Garam tumbuh dari perjalanan: mobil yang ia tumpangi berhenti di Jeneponto, sentra garam rakyat, dan konsep itu kian mantap sepulangnya dari Baloiya, Kabupaten Selayar. Garam menjadi bahan sekaligus penanda perjalanan hidup. Dalam instalasi Home, ia menumpuk dan menata sekitar seratus kilogram garam dari Jeneponto dan Pangkep; Home #5 tampil di Pameran Mengenang Leang-Leang, Fort Rotterdam, 12–19 November 2021.
Ia pernah menjadi anggota Departemen Seni Rupa Dewan Kesenian Makassar, bergabung di Yayasan FindArt Space di Antang, dan bergiat di Makassar Art Initiative Movement (MAIM). Pada 2016, bersama Amrullah Syam, ia mengerjakan patung tiga tokoh dunia — Nelson Mandela, Syekh Yusuf al-Makassari, dan Mahatma Gandhi — yang bisa dilihat di Anjungan Pantai Losari. Sejumlah karyanya menjadi sampul buku terbitan Penerbit De La Macca dan Garis Khatulistiwa, juga sampul Majalah Macca.
Disarikan dari esai Rusdin Tompo, Ahmad Anzul dan Arsip Visual sebagai Seni Menggarami Hidup (Hatipena).
- Lahir
- Makassar, 11 September 1967
- Wafat
- 22 Maret 2026
- Latar
- Perupa otodidak
- Seri
- Kampung Garam, sejak 2014
- Komunitas
- Dewan Kesenian Makassar, FindArt Space, MAIM